Handhira Production

Halaman


">Iklan Melayang

">

Selamat Datang Di Blog Bahase Sambas

Silekan Bace Postingan Menarik Nang Ade Disito'.

Handhira Production

Subscribe My Channel.

Handhira Production

Silahkan Subscribe.

handhira Production

Selamat Membaca.

Ada beberapa Jasa JUga Disediakan

Silahkan Kontak Nomor yang Tertera.

Kamis, 14 Agustus 2014

Kaddau Hatiku

"Kaddau" Hati Ini Tatkala Kau Tak Disini.
"Ndak Tantu Rudu" Fikiranku Terus Bergejolak.
Entah Apa Yang " Berselili" Di Otakku Hingga Dalam Hatiku "Teserappik" Sejuta Kata Yang Tertuju Padamu.
Aku Tak Tau Apa Yang Ku " Conomkan".
"Melengo" Dalam Kesendirian.
" Antu Nyaring" Pun Enggan Menyapaku.
Hanya Ada Suara " Keriang dan Intamar" Yang Bersenandung dalam malamku.
Kemana perginya " Kiddumanku" Yang selalu bersinar terang.
Kemana Tawaku yang "Ngakkal" setiap saat.
Kini Semua Hilang "Rammok" Bagai ditelan " Lentar Karring".
Hatiku " Rattas" Karna sendiri.
Jiwaku " Runnyok" Karna Gelisah.
Dadaku sesak hinggaku "Loyo".
Langkah kakikupun "Bagajjik"
" Ngelotek " tak bisa berjalan.
Nafasku "Terhingap-Hingap" mencari sedikit ketenangan.
Tuhan Tunjukkan jalan-Mu.
Jangan ada lagi " Seleko" hidup ini
Luruskan dan "Lanyumkan" jalanku.
Buang semua fikiran jahat yang " Niamme' " Otakku.
"Tappaslah" hati ini yang selalu berprasangka buruk.
Jagakan semuanya..
Hingga berkekalan sampai "Ka'ang" Nun Yo..

Jarrokkan Jarring

" Begajjik Jagokmu" saat kau kedinginan.
Kuberikan kau Sehelai "Gabbar" agar kau sedikit mendapat kehangatan.
Matamu kau "Kirap-kirapkan" dan bibirmu kau "Muncongkan" tatkala kau minta sesuatu.
Pertama aku "Bussong" pun mengerti.
Bahasa isyaratmu membuatku bertanya apa maumu.
"Gasa'ang" Kau meminta "Belungkur" untukmu "Guring".
Aku pun Menuruti apa mau mu.
Kau pun mulai "Mengatupkan " matamu.
Aku hanya "Menconomi" tatkala kau tidur.
Suara "Sangngoranmu" mulai terdengar.
Aku tak pernah merasa "Ibuh" sedikitpun apalagi aku sampai "Kaleh" dari sampingmu.
Kau mulai "Meransau", kau ngomong sendiri masalah "Jarrokkan Jarring " yang kau "tapor".
Semula aku anggap "ransauanmu itu bullak".
Tapi setelah kuperiksa "Arrak pinggan " "tergogok" "Jarrokkan jarring" "Seredang tue".
wawwaww "jikku "dalam hati.
Ada "Tambol" rupanya, enak untuk di "radak" saat hujan.
Tapi aku tak kuat memakannya, aku takut "rangngangnya" itu.
Akupun hanya "menculiknya" sedikit.
Kemudian aku pergi "memaggek" kamu yang "terlempe" disana.
Aku tak sengaja melihat kearah kakimu.
Ada "amau" yang masih melekat di "Tumbikmu".
akupun mulai "bertetau" mencari air untuk membasuknya.
Kutemui "Sesuduk" air, lalu ku "timbuska" kekakimu.
Kau pun "meladde", aku terkejut dengan muka "kassang kesupannan".
Kukira engkau akan "mengerepekiku", "gassa'nya" kau malah "ngiddum" sambil berkata.
Tolong juga "bassokkan taek ayam berangnga' dikaki siballahnye".
aku pun "bercecak" menjauhimu...


“ Perogon Pantai “



Aku “ Terconom “ memandang Jauh kelepas pantai
Duduk “Terperedok” ditemani angin Laut.
Wajahku “KuLanggak kan” Ke Burung “ Apok “ yang terbang Beriringan.
Suara Ombak seakan “Ngeraok” membangunkanku.
Ikan “Tempussok” berenang dibawah kerumunan “ Nengo’ ” diatas “ Amau “.
Namun semua Tak membuatku “ Meladde “ akan waktu yang terus berjalan.
Aku masih saja “Terconom”.
Sejuta Kata dalam Otakku “Terserappik” namun tak bisa “Kupadahkan”.
Apa yang aku Fikirkan.
Semua hanya kenangan “Gek Marek Poye” di “ Pito’ “ pantai Ini.
Dulu aku pernah “Terkidum” bersamanya disini.
“Bercacca’-Cacca’ “ menyusuri pasir putih Pantai ini.
“Berpongah” ria dalam suka saat bersama.
“ Kudako’ “ tubuhnya, “Kutabbakkan” kata manis untuknya.
Diapun “Mengatupkan” Matanya, lalu Ku “Hontoskan” keningnya ke batu ini.
Dia “Keibuhan” denganku, dikejarkan aku sampai diujung pantai.
Aku pun “Becaccak” laju.
Kemudian diapun “Terperosok” dalam lubang “Perogon” bekas “Jallu” mencari “Radakkan”.
Ia “Ngeraok Kak Kepakkek” memintaku menolongnya.
Aku hanya terdiam. Tak perduli dengan dia
Dia terus “Mengareh” pasir untuk melepaskan kakinya dari “Perogon” itu.
Kulempari dia dengan “ Timato’ “ ia pun “terkiccing-Kiccing” menahan sakit.
“Jandolnya” Lebam kena lemparanku.
Kulihat dilangit “Antu Nyaring” dan burung “Uncik” ikut “Ngakkal” mentertawakannya.
Suara “Jeruik dan keriang” menambah hangat saat itu.
Dia menjadi “Kassang” ketika orang-orang juga ikut “Mencoronginya”.
Matanya “Tercinat”, Bibirnya terus “Menyumpah Seranahi” Aku.
Matanya terus “Kirap-Kirap”, sekali kali matanya juga di “Birip-Birip”kannya.
Aku tetap tak perduli, “Kualekan” dia “Merannah” tak bergerak.
“Palak Tut “ dan “Tumbiknya” masih tak terlihat Karena “terperosok” di “Perogon” itu.
Dia terus “Ngeringgis” menahan sakit.
Lalu kuangkat dia dari “Perogon” itu. Betapa Aku terkejut, kulihat kuku kakinya “Tanggal”.
“Mahatnya” “Terbancut” keluar.
Bau “Lassing”pun tak terhindarkan lagi.
“Rangngang” “Jarring” dari tangannya belum hilang bekas dia “Beratah” tadi pagi.
Dia tertawa memandangku, Nampak “Seculik” “Tai Ugik” “Takkang” di giginya.
Lubang hidungnya Masih “Salangan” bekas dia main “Laggum” tadi malam.
Betisnya masih ada “Taggar” air “Empallong” Bekas Dia “Ngammal “ kemarin “Bahari”.
Rambutnya masih “Karro’ “, “ Jambolnya” masih “Tecaggat” karena jarang “Disampoinya”.
“Bangngas” dari rambutnya pun turun menepikan diri.
Kutu yang sedang asyik “Berkumbah” “Interajjunan” dari “jandolnya”.
Astaga….“Jikku”dalam Hati.
Apakah arti semua ini. Apa Maksud Kisah Ini…
Lalu diapun mulai “Berensot” berusaha menepikan diri.
Bekas sayap “ Cak Kaller “ berterbangan melayang “Tak Tantu Rudu”.
Dia pun Mulai duduk dan “Tegole’ “ tak Berdaya.
Dia Nampak “Kehengasan”, Nafasnya “Seliang-liang” Keluarnya.
Dia Mulai “Mengatupkan” Matanya.
Istrirahat panjang menuju alam mimpi.
Jam didinding “Begajjik”, hape “Ngelantar”, Sinar Matahari Menempus “Penyawan”.
Angin masok lewat “Lawang” yang “Teberangngau”.
“Gasa’ang” baru pagi hari..
Diapun terbangun dari mimpi.
“Gille” dalam mimpi masih sempat mimpi…

( Hahahahahah )

Karaktersitik Kerempeng

Hal yang belum pernah difikirkan orang adalah hal yang menarik untuk ku fikirkan, aku merampungkannya menjadi satu tulisan yang asyik dan menghibur. Yang Mau Ketawa “Ngakkal” sampai “ Parrut Karro’ “ juga sampai mata “Tercinat-cinat”.Silahkan di baca Postingan Saya berikut Ini.
Karaktersitik Kerempeng
1. Ukuran terkecil baju bisa muat.
2. Bila terkena angin mudah “Goyang”.
3. Lubang “Gallang Ajjam” Paling bawah pun masih “Kendor”.
4. Hanya bisa pakai “ Katok Sappan”, “Lidder” yang pinggangnya “Bergettah”.
5. Perlu “Taliban” atau “Rafia” bila memakai “Selawwar Levis”
6. Sering Mengalami “Selawwar Ngelorot”.
7. Berjalan kelihatan “Eger-Eger”.
8. Hemat timbangan, Karena tidak perlu pakai timbangan yang lebih dari 50 Kg, cukup antara 20-30 Kg           saja.
9. Body Slim “ Pippeh”, samping depan dan belakang semuanya Slim.
10. Tak bisa membawa motor dalam kondisi “Ngebut”, Takut melayang.
11. Mudah dan praktis, karena tak memerlukan tempat yang besar, seperti kursi, tempat tidur maupun                 Closet.
12. Mudah dibawa kemana-mana, karena tidak berat. Satu motor bisa 4-6 “Kerempeng”.
13. Kondisi terjelek adalah saat “Kerempeng” pakai baju “Bunting”. Makanya jangan diberi.
14. Susah menentukan model Fashion, Karena hampir “Kekandoran Semue”.
15. Mudah di “Tapporkan”, karena bisa muat dalam tas, Koper, bahkan”Surongan” meja atau lemari.
16. Tidak Bisa diajak “Berimpikkan” dengan orang, Karena Mudah “Serampah”.
17. Bila “Kerempeng” di baringkan, Bisa buat bermain Musik, anggap saja Rusuknya itu Piano.
18. Bisa buat praktek, khususnya pelajaran Biologi. Karena pas mempelajari Tulang-tulang manusia.
19. Bila “Kerempeng” tinggi, bisa dibuat tiang “Assaiyan” baju.
20. Dan juga bisa dibuat “Galah” untuk “Nyullok” Asam, maupun rambutan.

Sabtu, 28 Juni 2014

SKRIPSI HUKUM

STUDI KOMPARATIF GUGAT CERAI DENGAN ALASAN  SUAMI JATUH  MISKIN MENURUT       UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974
DAN PERSPEKTIF FIQIH


SKRIPSI


Oleh :

R   I   K   O
A01110210


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
FAKULTAS HUKUM
PONTIANAK
2014
STUDI KOMPARATIF GUGAT CERAI DENGAN ALASAN  SUAMI JATUH  MISKIN MENURUT       UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974
DAN PERSPEKTIF FIQIH



SKRIPSI


Oleh :

R   I   K   O
A01110210



Skripsi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
FAKULTAS HUKUM
PONTIANAK

2014

Maksegak Ingin Sentuhan

Pesta demokrasi 2014 sebentar lagi akan digelar, baik pemilihan presiden dan wakil presiden maupun pemilihan dikursi Legisatif juga akan dilaksanakan. Para bakal Calon Legislatif yang akan mencalonkan dikursi Legislatif Kabupaten juga sudah mulai mengenalkan diri kepada masyarakat, mulai dari kartu nama sampai dengan kalender juga sudah mulai sebarkan. Beberapa Partai politik (Parpol ) juga sudah mulai membuka penerimaan bakal Calon Legislatif untuk mengisi kursi di tingkat II. Perkenalan para bakal Caleg bukan hanya di daerah perkotaan bahkan  ke daerah pelosok juga ikut jadi sasaran demi mendapatkan suara. Pesta demokrasi pada Tahun 2009 silam menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat pedalaman, khususnya daerah pelosok yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Berbagai janji dan janji juga sudah didapatkan dari beberapa Caleg yang sekarang telah menduduki kursi di Legislatif tingkat II kabupaten. Namun, kenyataan yang ada hanyalah janji yang tertinggal, janji yang terlupakan,  janji yang hanya ada janji tanpa ada kenyataaan yang didapatkan. Segala janji bangunan yang pernah ditawarkan seakan musnah ditelan jabatan, sirna dimakan kekuasaan dan kesibukan. Jangan heran jika masyarakat kecil dipedalaman nantinya banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya, karena sebagian besar mereka mengganggap para Caleg hanya mengobral janji yang bila naik tidak akan ditepati. Memang begitu kenyataannya, sebagai contoh daerah saya sendiri yang masih tergolong daerah pelosok yang kurang mendapatkan sentuhan dan perhatian dari pemerintah setempat. Jalan yang seharusnya menjadi daerah perbatasan antara Kota Singakwang dan Kab. Sambas nampaknya hanya kearah Kota Singkawang yang Mulus, sedangkan bila masuk ke kabupaten Sambas rusaknya bukan main, dari sini saya bisa melihat sebuah realita yang ada. Jangan heran jika banyak opini masyarakat yang berkembang tentang Pemerintah saat ini,  Pemerintahdatang dan berkunjung ke daerah saya boleh dibilang jarang bahkan tidak pernah sama sekali. Ketika musibah banjir melanda beberapa desadi Perbatasan Sambas-Singkawang juga terkadang tidak pernah dikunjungi, jika dibandingkan antara Kota Singkwang dan Kabupaten Sambas dalam menangani masalah banjir juga jauh berbeda. Ketika banjir datang bebarapa Fasilitas dan penanggulangannya bagi warga Singkawang begitu diperhatikan oleh Pemkot Singkwang mulai dari tempat pengungsian, kesehatan dan makananan bagi para pengungsi. Sedangkan khusus  daerah  Semelagi Besar, Sungai Daun, Sebetung dan Maksegak yang merupakan daerah langganan banjir setiap tahun yang terletak didaerah pesisir sungai Selakau, bantuan dari Pemerintah Kabupaten bolehdibilang minim bahkan tak ada sama sekali beberapa tahun terkahir ini. Yang paling menyedihkan lagi ketika musibah banjir datang, beberapa desa tak pernah dikunjungi oleh pemerintah dari Kabupaten.
Dengan harapan yang besar, ketika pesta demokrasi 2014 mendatang akan dilaksanakan. Terutama untuk daerah pelosok yang kurang mendapat perhatian dari Pemerintah hendaknya menjadi target pembangunan kedepan, setidaknya Listrik juga menyeluruh kepada semua masyarakat tidak hanya untuk yang berada diluar saja tetapi bagi masyarakat diperdalaman juga harus mendapatkan Fasilitas Listrik. Bila melihat kenyataan yang ada didaerah saya, sudah dua tahun terakhir ini hanya ada tiang listrik yang terpasang sedangkan aliran listriknya tidak mengalir. Begitu juga dengan pembangunan jalan sudah beberapa tahun hanya janji dan janji, tidak pernah jadi kenyataan sampai sekarang.  Jalan yang rusak, berlobang, berbatu dan licin yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan haruslah di perbaiki. Biar masyarakat bisa menikmati hasil dari perjuangan wakilnya yang terpilih, tidak hanya mendapat janji yang palsu.
Semoga saja.
Penulis :
R I K O
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura
Asal Maksegak, Kec. Selakau Timur, Kab. Sambas

Aku & Outreaching


          Mimpi, angan-angan, khayal dan cita-cita semua tak jauh berbeda, Cuma membedakannya hanya bagaimana cara untuk menggapai semua itu biar tidak lagi menjadi mimpi, tidak lagi menjadi khayal dan bukan lagi sekedar cita-cita, namun semuanya menjadi satu dalam kenyataan. Bermimpi adalah hal yang paling mudah, pejamkan mata dan berkhayal dengan sejuta khayalan. Itulah mimpi, ia hadir saat hati ini mulai menggerakkan otak dan fikiran yang memutarnya untuk memikirkan sesuatu agar tertuju pada satu titik pencapaian. Tanpa punya mimpi hidup ini kan sepi, semangat takkan tergerak, langkah kaki takkan pernah ikut melangkah , hati takkan pernah terketuk. Namun, mimpi orang miskin dengan segala keterbatasan berbeda dengan mimpi orang yang kaya yang saat itu berkhayal semuanya akan terwujud, orang tak mampu bermimpi dengan segala upaya untuk menggapainya. Tapi mimpi adalah milik semua orang, semua orang berhak untuk bermimpi, bercita-cita hanya cara pencapaian dan prosesnya yang berbeda.
          Tulisan mimpiku pertama kali kupajang disudut kamarku, kurangkai kata indah ku bahwa aku akan mampu menggapainya. Tulisan itu terus kupandangi setiap pagi saat aku mau berangkat kesekolah, namun pada saat itu aku belum mengerti banyak tentang apa itu mimpi, apa itu cita-cita, dan apa itu khayalan. Mimpiku waktu itu hanya sedikit, aku hanya bercita-cita menjadi seorang sarjana. Tepat pada tanggal 26 Mei 2010 aku dinyatakan lulus oleh sekolahku, betapa senang nya hatiku. Pencapaian hasil luar biasa yang kurasakan saat itu, pergi setiap hari kesekolah yang harus menempuh belasan kilometer, harus menempuh banjir, jalan berlubang, jalan becek dan semuanya telah terbayar tuntas dengan dinyatakan aku lulus.
     

 
close